Gara – gara digugat karena inul daratista jadi makin terkenal

Nasib memang sudah di takdirkan oleh yang maha kuasa dan gara-gara digugat inul daratista jadi main terkenal begitulah kehidupan yang mana kita tidak tahu mengenai nasib seseorang terkadang karena gugatan bisa masuk penjara namun ada juga justru menjadi makin terkenal . Nasib baik dialamo oleh penyanyi dangdut ratu negebor dan telah sejajar dengan artis papan atas .

gara-gara digugat inul jadi terkenal

Namanya sudah dikenal orang sebelum beberapa stasiun televisi swasta berebut menampilkannya dalam program yang eksklusif. Bintang kelahiran Pasuruan, 21 Januari 1979, ini telah belasan tahun manggung di kampung maupun kota, bahkan belakangan ia juga kerap tampil di kafe-kafe dan diskotik. Konon kabarnya beberapa partai politik mulai melirik dia untuk dijadikan pemikat massa pada kampanye Pemilu 2004.

Siapa lagi yang banyak menimbulkan kecaman dan penuh sensasi di dunia musik dangdut Indonesia saat ini yang namanya meroket begitu cepat kalau bukan Inul Daratista. Goyangan pinggulnya yang pada awalnya disebut oleh Eko Patrio ‘kayak ngebor aja’ kini mendapat julukan ‘goyang ngebor’.

Goyangannya ini mampu menyihir banyak mata penggemarnya di kota, desa bahkan mancanegara, laki-laki maupun Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan, anak-anak hingga dewasa. Histeria penggemarnya di kalangan ibu-ibu juga tidak kalah serunya. Ketika Inul tampil atas undangan jajaran Pemda dan Muspida DKI Jakarta dalam kegiatan senam pagi, tidak ketinggalan Gubernur DKI Jakarta Gubernur DKI Jakarta 1997-2007 dan Kepala BIN 2015-2019
Sutiyoso ikut bergoyang bersama Inul pagi itu.

Inul lahir dalam keluarga yang sederhana dan bukan seniman. Menurut penuturannya, keluarganya tergolong santri tulen. Ayahnya yang pada awalnya tidak setuju dengan keputusannya untuk menyanyi memberinya nama Ainur Rokhimah. Selulus SMA, ia tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbatasnya biaya.

Ia mulai menekuni dunia nyanyi semenjak SD kelas enam dan sempat mengikuti kursus vokal di Bina Vokalia. Kebetulan di dekat rumahnya, di Pasuruan, Jawa Timur ada sanggar tari yang sering melatih tari Jaipong. Inul suka mengintip anggota sanggar latihan dan meniru gaya tarian mereka di rumah dan di panggung.

Sebelum terjun total ke dunia dangdut, Inul sempat menyanyi bersama kumpulan band lokal membawakan lagu-lagu rock. Karena background ini jugalah, Inul lebih suka dangdut yang lebih nge-rock untuk mengimbangi semangat dan goyangnya yang enerjik itu.

Jauh sebelum terkenal seperti sekarang ini, Inul benar-benar memulainya dari bawah. Sekitar tahun 80-an, Inul tampil di acara Mendirikan sekolah wanita di Jepara dan Rembang
Kartini-an. Di acara inilah Inul untuk pertama kalinya menerima honor sebesar 3.500 rupiah. Padahal Inul tidak pernah meminta, ia diminta menunggu sebentar, dan tidak tahunya ia diberi sebuah amplop.

Semenjak penampilan pertamanya di acara itu, Inul yang pernah menjuarai lomba menyanyi di Jawa Timur ini, mendapat banyak undangan menyanyi khususnya acara hajatan di kampung-kampung. Inul sempat tampil di TVRI Surabaya, namun kurang mendapat sambutan seperti sekarang ini.

Sebagai Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi dangdut yang mengagumi Rita Sugiarto, Inul sudah mencetak berbagai prestasi besar mengalahkan para seniornya yang sudah lebih lama di dunia dangdut. Di Jepang, misalnya, Inul pernah dua kali tampil, yang pertama sepanggung dengan Katon Bagaskara dan yang kedua sepanggung dengan super grup Jamrud. Di Taiwan, Inul menyanyi di depan TKW asal Indonesia. Di Brunei, Malaysia, dan Korea, Inul tampil beberapa kali.

Beberapa waktu lalu, Inul juga baru saja tampil di Amsterdam. Inul juga ditawari menyanyi di Polandia dan Amerika, namun belum diterimanya dengan alasan letaknya yang relatif jauh dari Indonesia. Yang terakhir, Inul tampil sebagai Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi pembuka grup internasional asal Andalucia, Spanyol, Las Ketcup yang terdiri dari kakak beradik Pilar, 23; Lola, 21; dan Lucia, 20; yang mempopulerkan lagu Asereje, dalam konser mereka di Gelora Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno, 2 April 2003. Keduanya memiliki background yang sama, mereka sama-sama berasal dari kota kecil dan menjadi terkenal karena tariannya.

Kepopuleran Inul menumbuhkan komunitas pengemar Inul yang diberi sebutan “Inulitas”. Istilah itu populer di daerah Jawa Timur dan belakangan mulai banyak para remaja yang ingin belajar goyangan ala Inul.

Nama Inul mulai mencuat ke permukaan setelah mewabahnya lagu irama dangdut koplo — dangdut dengan sentuhan kendang jaipong ditambah VCD bajakan yang merebak di masyarakat di akhir tahun 1999. Padahal, sebelumnya Inul sudah mengeluarkan album VCD, seperti Two In One – Golden Hand Surabaya, Kepiye Mas – Golden Hand Surabaya, Cinta Suci – dangdut Mandarin, Golden/Blackboard, Pacar Asli – Golden Hand, dan Mbah Dukun – versi Jawa/Blackboard, namun kurang terdengar gemanya di masyarakat.

Di tengah-tengah maraknya kekecewaan artis Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi Indonesia karena merajalelanya pembajakan hak cipta, Inul justru menjadi penyanyi yang namanya mencuat lewat VCD tak resmi alias bajakan. Lucunya, ada penggemar Inul di Jepang yang menyodorkan 12 koleksi VCD tak resmi agar ditandatangani olehnya. Padahal Inul sendiri tidak punya satu keping pun VCD bajakan itu. Diperkirakan ada 15 versi VCD bajakan milik Inul yang beredar di antara penjual VCD di pinggir jalan. Konon, diperkirakan kira-kira 3 juta kopi VCD yang berisi penampilan Inul di panggung-panggung hajatan itu sukses terjual.

Keberhasilan Inul tidak luput dari tentangan. Di awal bulan Februari 2003, Majelis Ulama Indonesia, menyatakan bahwa penampilan Inul sudah menjurus ke arah pornoaksi, yang telah menyalahi fatwa yang dikeluarkan Juli 2002 tentang pornografi. Pemerintah Kotamadya Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta bersama MUI setempat melarang Inul untuk tampil di kota tersebut karena khawatir kalau Inul akan menurunkan moralitas masyarakat kelas atas dan terdidik di kota itu.

Media Watch & Consumer Center (MWCC) mengeluhkan, gaya ngebor ala Inul sebagai hal yang memprihatinkan. Masyarakat Tolak Pornografi juga mengaku muak mengomentari aksi goyang ngebor Inul. Yang terakhir, giliran penyanyi dangdut Penyanyi dangdut
Rhoma Irama juga ikut mengecam Inul yang dianggapnya terlalu mengumbar erotisme dan sensualitas. Ia mengimbau agar Inul beserta artis dangdut lainnya kembali ke jalur yang benar, sesuai dengan ajaran agama. Padahal kalau kita mau jujur, masih ada yang lebih “dahsyat” dan syur dari goyangan Inul yang belum tampak ke permukaan.

Budayawan KH Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Abdurrahman Wahid (Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Gus Dur) berpendapat lain soal goyang dangdut “ngebor” Inul. Ia menyatakan agar setiap orang menghormati cara seniman berekspresi.

Ketika manggung di Kalimantan beberapa waktu yang lalu, Inul memenuhi undangan Guru Ijai, seorang kyai kharismatik yang sangat dihormati masyarakat Kalimantan, bahkan seluruh Indonesia, untuk bertemu. Inul diberikan banyak hadiah bahkan Guru Ijai sempat mengumumkan bahwa Inul adalah anak angkatnya. Guru Ijai berpesan dan berdoa,”Semoga Inul dapat masuk sorga, tidak menghiraukan gunjingan atau apapun yang terjadi. Jalan terus karena kamu bekerja mencari nafkah.”

Popularitas Inul juga tidak lepas dari kerja keras sahabatnya, Del, yang merangkap sebagai manajernya. Del jugalah yang mengatur masalah jadwal show, mengatur kostum, menyaring tawaran iklan, dan lain-lain. Del dan Inul bertemu di sebuah stasiun TV. Produser TV tersebut meminta Del untuk mengejar Inul untuk dikontrak rekaman, namun karena Inul menolak, Del lalu menjawab, “Ya sudah, kalau enggau mau, kita berteman saja.” Semenjak saat itulah, persahabatan antara Del dan Inul semakin erat. Setiap kali Inul ada kegiatan di Jakarta, Del selalu menemani hingga akhirnya Del membantu Inul dalam kegiatan show-nya sebagai manajer.

Setiap hari rata-rata ada 50 penelepon yang meminta Inul untuk tampil. Kini Inul sehari bisa tampil di tiga tempat sekaligus. Kalau antara panggung yang satu dengan yang lain berdekatan, sehari bisa tampil lima kali. Itu dilakukan Inul selama sebulan penuh. Untuk acara hajatan Inul dihonori Rp 3-5 juta, tetapi bila ada sponsor, ia biasanya minta 8-15 juta. Pendapatan yang ia peroleh ini digunakan untuk membeli sawah, rumah, mobil, deposito dan membuat usaha. Kafe Rajawali di Surabaya merupakan salah satu wujud nyata hasil kerja keras Inul selama ini.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/347-selebriti/102-ratu-goyang-ngebor
Copyright © tokohindonesia.com

Iklan