Mengintip kehidupan homo seksual

mengintip kehidupan homo seksual

Homo seksual adalah laki – laki yang menyukai sesama jenis lalu bagaimana kehidupan seksual nya mari kita intip sejauh mana pola hidup sehari – hari nya dan apa saja yang membuat pria menyukai sesama jenis ini .

ASMARA sejenis atau populer disebut pasangan guy baik homoseksual maupun biseksual, sebenarnya bukanlah fenomena baru dalam perjalanan kehidupan sejarah manusia. Prilaku menyimpang ini sudah terjadi sejak ratusan tahun silam. Saat ini asmara sejenis bahkan tidak hanya terjadi di kota-kota metrpolis seperti Jakarta saja, tetapi sudah merambah hingga ke daerah-daerah tertentu termasuk Cirebon. Tak terasa gejala dan fenomena asmara sejenis bahkan kini semakin banyak menjangkiti kalangan remaja Cirebon.
Bisa dibilang, sebagai second city di Jawa Barat, Cirebon terbilang banyak dihuni oleh para brondong atau simpanan para penikmat hubungan sejenis (guy)
Mengintip kehidupan para penikmat asmara sejenis, sebenarnya bak mengusut benang kusut. Namun pada dasarnya prilaku menyimpang ini sebenarnya di picu oleh berbagai alasan mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat, ekonomi dan bahkan impian meraih sesuatu yang lebih dalam kehidupannya. Tak heran, jika kemudian para pelaku asmara sejenis ini lebih didominasi oleh para remaja belia atau kerap disebut brondong.
Alasannya cukup masuk akal, para remaja usia belia yang notabene tengah mencari jati diri, kadang tak lagi berpikir panjang dengan apa yang dilakukannya. Celakanya, jika para brondong tersebut pada akhirnya terperangkap dalam prilaku menyimpang dengan penikmat sek sejenis atau gay, hampir bisa dipastikan ia juga akan semakin menikmati perannya sebagai brondong.
Pada umumnya, sebutan brondong sebenarnya kerap kali digunakan oleh banyak kalangan yang merasa memiliki peliharaan atau simpanan, baik itu kalangan tante-tante, kaum gay atau pelaku dunia malam seperti para PL juga sering kali menyebut pasangannya dengan brondong. Karenanya, kendati setiap orang memiliki arti yang beragam tentang brondong, pada dasarnya semuanya sama brondong bagaikan mainan yang diharapkan bisa dipakai dan memuaskan hasrat si pemilik, entah itu kalangan tante, pemandu lagu (PL) atau bahkan banci maupun para penikmat cinta sejenis baik homoseksual maupun biseksual.
Jika harus memilih, kebanyakan brondong tentu harusnya lebih suka dengan kalangan tante. Alasannya meski dari berbagai aspek jelas-jelas melanggar, berkencan dengan lawan jenis tentu sehat secara seksual. Berbeda dengan brondong yang menjadi mainan para guy (homoseksual dan biseksual) yang mau tidak mau akan terus menularkan prilaku-prilaku menyimpang dengan jeratan asmara sejenis.

Dari Yang Tersembunyi Hingga Yang Terang-terangan

HUBUNGAN sesama jenis baik antara laki-laki dengan laki-laki maupun perempuan dengan perempuan, hingga kini belum bisa diterima di Indonesia. Sayangnya pemerintah sendiri tidak bisa mengambil tindakan terhadap para pelaku hubungan terlarang tersebut. Pasalnya hingga kini belum ada perundangan yang mengatur hubungan sejenis.
Dan saat pemerintah sibuk merencanakan berbagai undang-undang yang mengatur kemasyarakatan, tanpa disadari penyakit asmara ð 7 3 Šsejenis ini secara leluasa bebas bergerak menggerogoti moral anak bangsa kita. Apalagi tak bisa dipungkiri, kebanyakan masyarakat Indonesia, khususnya Cirebon berpenghasilan menengah kebawah. Sehingga alasan ekonomi menjadi sesuatu yang sangat untuk menjerat para remaja menjadi brondong-brondong yang siap memuaskan para guy atau sejenisnya. Walhasil hal ini menjadi salah satu pemicu terus berkembangnya gelora cinta hubungan sesama jenis. Karenanya jangan heran jika kemudian Kota Cirebon cukup banyak dihuni oleh kalangan waria dan kaum guy. Apalagi komunitas mereka juga sudah cukup banyak memiliki anggotanya dari masyarakat Cirebon.
Hasil penelusuran “MD”, para brondong yang mayoritas berusia di bawah 20 tahun ini pun seperti terjebak dalam kubangan lumpur hidup yang siap menarik dirinya kapanpun. Dari mulai yang mampu bermain rapi hingga yang terang-terangan, semuanya mengaku merasa ketagihan menjadi brondong. Meski secara nalar kadang mereka menolak hubungan yang kerap dianalogikan “jeruk makan jeruk”.
Namun, rasa ketagihan terus menjadikan mereka merasa sulit untuk melepaskan diri. Ketagihan akan uang yang mengalir dari sang majikan dan ketagihan fantasi-fantasi liar bersentuhan dengan sesama jenis.
Seperti diungkapkan salah seorang remaja berinisial Ah (19), sedikitpun ia tak pernah berpikir perjalanan hidupnya akan diwarnai prilaku-prilaku menyimpang. Apalagi ABG berkulit putih dan terlihat cukup keren ini mengaku tak satupun dari keluarganya yang mengetahui kemalangannya saat ini. Bagi remaja asal Ciwai Gebang Kuningan ini, menjadi budak para homoseksual dan biseksual adalah mimpi buruk yang hingga kini terus membelenggunya. Namun secara sadar, remaja yang memiliki tinggi badan 172 cm ini tetap ingin kembali hidup normal.
Dalam bincang-bincangnya dengan “MD” Ah yang semula enggan untuk berbicara terbuka ini menuturkan, alasan ia dan beberapa temannya terjerumus ke jurang itu pada awalnya tak disadari sama sekali. Semuanya berubah saat seseorang mengenalkannya ke dalam dunia pragawan. Tampangnya yang memang tergolong ganteng, selanjutnya menjadikan sosoknya cukup digandrungi tidak hanya oleh wanita tetapi juga para waria dan guy.
Meski awalnya merasa jijik dengan ulah para homoseksual dan biseksual tersebut. Namun kedekatan secara personil pada akhirnya membawanya lebih erat dan mulai merasa tidak enak dengan banyaknya bantuan yang diberikan kepadanya. Apalagi sebagai remaja yang masih sekolah diakui Ah, persoalan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari menjadi persoalan paling sulit yang dirasakanya.
Jeratan para penikmat hubungan sejenis kepada para brownies (brondong manis) sebutan untuk kalangan ABG yang terlibat praktek sek tersebut, memang sangat luar biasa. Terbukti dari yang masih malu-malu hingga yang terang-terangan, saat ini cukup banyak bertebaran brondong-brondong manis. Caranyapun cukup bervariatif ada yang hidup satu kos-kosan, ada juga yang hanya ketemu sesekali hanya untuk mendapatkan uang sebagai upah atas layanannya.
Yang menarik tarif brondong juga ternyata cukup unik, selain wajah, status sosial si brondong juga ternyata cukup menentukan, apakah pelajar atau mahasiswa. Meskipun tetap saja akan tetap ð 7 3 Šberujung pada kemampuan si pelaku untuk membayar brondong tersebut. Adakalanya, jika sudah sama-sama suka dan merasa enjoy, uang bahkan tidak lagi jadi patokan. Yang penting bagi mereka bisa menyalurkan hasrat biologisnya.
Fenomena banyaknya penikmat sesama jenis yang juga dari kalangan pas-pasan, ternyata berdampak lain Kota Cirebon. Hasilnya bisa dilihat bagi mereka yang tidak sanggup membayar brondong yang rata-rata bertarif Rp200.000,00- hingga Rp500.000,00-,. Mereka tentu akan mencari cara mendapatkan lelaki muda dengan biaya yang murah. Hasilnya beberapa tempat di Kota Cirebon seperti alun-alun Kejaksan dan pusat-pusat perbelanjaan sering kali menjadi pangkalan mereka mencari mangsa.
Apalagi secara fisik mereka nyaris tak tampak beda dengan laki-laki kebanyakan. Tak jarang untuk ukuran pria, wajah para homoseksual dan biseksual ini jauh lebih keren dan tampak gagah. Meskipun sesekali sering terlihat sisi kelembutan dan feminismenya.

Kode Etik dan Bahasa Tertentu Dikalangan Penikmat Sesama Jenis

UNTUK memuluskan dan menjaga kerahasiaan seorang brondong, para penikmat hubungan sesama jenis juga kerap kali menggunakan kode etik dan istilah serta bahasa khusus dalam bertransaksi.
Bahasa yang menurut mereka hanya kaumnyalah yang mengerti.
Sebagai contoh, jika para pemakai ingin menanyakan apakah brondong tersebut mau atau bisa pakai, diantara kaumnya mereka kerap kali melakukan pertanyaan semisal <I>mawar<*J><P> atau <I>mawardi<*J><P>, yang artinya mau apa tidak.
Kata lain yang sejenis kerap kali digunakan kata <I>bisikan<*J><P> yang artinya bisa atau tidak.
Untuk menyebut kata mahal, jika si brondong minta terlalu tinggi, para penikmat kerap menyebutnya dengan kata <I>maharani<*J><P> yang berarti mahal. Lawan katanya <I>mursida<*J><P> yang berarti murah.
Bahkan untuk menggambarkan seberapa piawai sang brondong dalam memberikan servise terhadap majikan, mereka juga membalutnya dalam bahasa yang santun. Semisal, maaf untuk bermain belakang atau sodomi, para brondong kerap menyebutnya dengan istilah Sop Buntut. Sementara untuk bergaya nungging mereka menyebutnya dengan ayam panggang. Untuk mengoral (maaf) kalangan brownies juga memiliki istilah cukup bervariasi seperti Lima Satu untuk onani dengan tangan dan semur lidah untuk mengulum dengan lidah. Ghiok Riswoto

Iklan